oleh

Belajar Keikhlasan Memimpin dari Kades Balitata

Omdesa.id — Di satu desa, separuh warga tak menikmati lampu listrik. Saat di malam hari, mereka hanya bisa menggunakan penerang seadanya. Meski begitu, seorang pria menawarkan kepada warga desa yang belum memasang lampu listrik ini agar dimasukkan aliran listrik ke rumah-rumah mereka. Ia meminta kesedian pemilik rumah yang sudah memiliki penerang listrik untuk berbagi dengan tetangga yang kegelapan di waktu malam itu, walau hanya satu mata lampu. Ia percaya, hanya orang-orang yang peduli, mampu menggerakan hati masyarakatnya, dia yang akan di senangi warga.

“Carannya, saya menyiapkan kabel dan mata lampu serta membayar biaya tambahan sebesar Rp 20.000 setiap bulan. Alhamdulillah, dengan cara ini, puluhan rumahpun dapat menikmati aliran listrik,” kata kepala Desa Balitata, Hariyadi Sangaji dihadapan redaksi Om Desa, mengisahkan dirinya berbuat untuk kebahagiaan masyarakat pada 3 tahun silam, sebelum terpilih menjadi Kades.

Program pemasangan lampu di Desa Balitata

Motivas Memimpin Desa Balitata

Sebelumnya, kata Haryadi, warga di desa ini seakan pecah akibat perbedaan politik dari setiap momentum pemilu. Mereka tak saling menyapa, tak saling membantu di antara sesama, seakan perbedaan pilihan dan warna itu memutus aliran dara sesama saudara. Kehidupan desa menjadi tak bersahabat. Sesama saudara, tetangga, kakak ber adik bahkan rumah tangga pun berantakan akibat perbedaan pilihan. Tak ada kedamaian disana.

Dikala itu, Desa Balitata, Kecamatan Gane Barat, Kabupaten Halmahera Selatan akan menyelenggarakan pemilihan kepala desa (Pilkades). Haryadi yang 15 tahun di rantauan dan baru kembali ke kampunya kelahirannya, Desa Balitata, ikut mencalonkan diri. Ia yang mengaku tak punya pengalaman di dunia politik apa pun. Namun tekannya dalam momentum itu hanya untuk menjalin kembali tali silaturahim yang putus di desa itu.

Kades Balitata saat memberikan beras raskim gratis kepada masarakat yang berhak menerima pada tanggal 2 November 2018

Dia menyadari bahwa dampak perbedaan politik di desanya itu memutus hubungan antara sesame. Itu sebabnya, ia selalu saja berusaha membangun hubungan baik dengan dua rival lainnya yang ikut dalam bursa Pilkades ini. Hingga tiba waktunya pemilihan, Haryadi pun tetap menjaga hubungan baik dengan dua pesaingnya. Dirinya mengajak kedua rivalnya ke Rumah, menawarkan makan dan minum kopi bersama sambil menunggu hasil pemungutan suara, siapa yang terpilih.

“Kita yang ikut calon ini, punya niat untuk memperbaiki desa ini. Terutama menyatukan masyarakat. Jadi, sia pun yang terpilih, kita harus ikhlas dan sama-sama bekerja,” katanya dihadapan kedua calon lainnya.

Walhasil, Haryadi terpilih sebagai kepala Desa Balitata. Meski dalam suasana gembira, ia enggan mengijinkan pendukungnya merayakan kemenangan itu secara berlebiha hingga membuat yang lainnya tersinggung.

“Perna ada sala satu pendukung saya ribut di jalan saat saya menang pemilihan. Saya langsung berdiri dan menegurnya. Sebab misi saya adalah mengembalikan hubungan persaudaraan masyarakat jadi harus menjaga hal-hal yang membuat orang lain bisa tersinggung dan marah,” tuturnya dengan mata yang berkaca-kaca, merasa sedih atas desannya yang tak lagi seakrab dulu.

Penghargaan kepada Ibu-ibu yang setiap tanggal 13 menggelar Posiandu di Desa Balitata

Usai terpilih hingga mulai menjalankan pemerintahan desa, dia pun mengunjungi sejumlah rumah warga yang mulannya “bercerai” akibat politik, akhirnya sadar dan bersatu. Sebab tantangan selanjutnya, kata Kades terpilih ini, bahwa pembangunan dapat berjalan baik jika ada persatuan dari masyarakat.

Sekdes yang Cacat

Selanjutnya, ketika hendak menyusun kabinetnya, Ko Adi, sapaan karib Haryadi ini menyadari kelemahan dirinya dalam urusan tata kelola administrasi hingga merekrut seorang sekretaris desa (Sekdes) yang secara fisik cacat alias Lumpuh. Walau cacat, rupanya dia menilai pria yang di angkat sebagai sekdes ini memiliki kemampuan dan sangat disiplin dalam mengelola administrasi desa. “Saya butuh kemampuannya, bukan fisiknya,” kata Kades.

“Terbukti, semenjak dilantik, Sekdes ini mampu mengelola seluruh administrasi Desa Balitata sesuai standar administrasi desa pada umumnya”.

Program Terobosan

Dalam menjalankan program pedesaan, ada beberapa terobosan baru seperti Fasilitasi Rujukan bagi pasien Lansia ke Labuha, Ibukota Kabupaten yang mulai ia bangun. Menurutnya, program ini sangat penting karena selama ini, banyak pasien, terutama Lansia tidak dirujuk ke Kabupaten dengan alasan keterbatasan biaya tranportasi dan biaya hidup di RSUD Labuha.

Kades Balitata saat menyerahkan bantuan kepada pasien lansia bersama keluarga

Program ini pantas diadopsi oleh kepala daerah di Maluku Utara. Mengingat, Malut pada umumnya dan Halsel pada khususnya adalah wilayah kepulauan. Kenyataan di Desa Balitata merupakan contoh kecil atas masyarakat ekonomi lemah yang sakit berat dan harus dirujuk ke ibu kota Kabupaten atau ke Provinsi bahkan antar Provinsi, tidak bisa dilakukan hanya karena keterbatan biaya dan kesulitan rentan kendali. Meski disadari mayoritas warga memiliki BPJS, namun BPJS hanya menanggulangi biaya pengobatan. Sementara biaya terbesar lainnya, yaitu biaya hidup selama pengobatan tidak tertalangi sama sekali. Itu sebabnya, pemerintah daerah harus hadir untuk memastikan masyarakatnya terbebas dari rasa sakit penyakit dan psikologi sosial.

Utamakan Kepentingan Umum

Selain perhatiannya terhadap kesehatan warganya, ia juga menjalankan program pembangunan jamban umum, walau di rumahnya sendiri tak ada jamban. “Yang penting masyarakat sudah memiliki, itu sudah cukup bagi saya,” kata Kades.

Pembangunan Jamban di Desa Balitata

Komitmennya mengutamakan kepentingan umum ini, hingga bikin hartanya terkuras. Mengapa tidak? Ia menceritakan, bahwa sebelum menjabat kepala desa, beliau memiliki 13 unit kendaraan roda dua (motor). Setelah jadi Kades 3 tahun ini, motornya tinggal 3 unit pula. Lalu sisanya dikemanakan? “Saya jual untuk menutup kebutuhan warga desa yang tidak dianggarkan dalam APBDes,” jawabnya dengan tegar.

Inovasi, Belajar dari Anak-anak Kita

Begitu pula dalam urusan program inovasi, dia mengatakan bahwa desa tak perlu belajar jauh-jauh dengan topeng study banding yang menghabiskan miliaran rupiah setiap tahunnya. Cukup belajar dari anak-anak kita sendiri. Maksud dia, belajar dari sumber daya manusia yang ada di Malut.

“Karena saya yakin, bukan saja Balitata, tapi dari 1000 lebih desa di Maluku Utara ini, banyak sekali program desa yang inovatif dan benar-benar sesuai dengan kebutuhan rakyat yang pantas untuk di tiru dan di adopsi oleh pemerintah Provinsi maupun seluruh Pemerintah Daerah di Maluku Utara,” tuturnya.

Tekadnya berjuang membangun persatuan, pengabdian yang tulus hingga siap berkorban demi kepentingan masyarakat bukanlah main-main. Keseriusannya itu, ia tunjukkan ditengah masyarakatnya, walau terkadang dia juga diterpa opini negatif yang menilai lemahnya sumber daya aparatur, kades korupsi, serta tuduhan lainnya. “Tapi bagi saya, apa yang kita bikin, hanya orang jujur dan Allah yang tahu,” jawabnya.

Perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW yang dilaksanakan oleh ibu-ibu BKMT Permata yang di hadiri oleh ibu ketua BKMT dan Ibu pembina PKK kecamat Gane Barat pada 17 November 2018.
“Harapan saya sebagai Kades Balitata, dengan melaksanakan acara ini dapat meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT dan mempererat hubungan silaturahmi sesama ummat,” kata Kades Haryadi.

Menemui Redaksi Om Desa

Upaya menepis kecurigaan pubik, Kades Balitata ini menemui redaksi omdesa.id di Kota Ternate pekan lalu. Dalam pertemuan itu, dirinya berkeinginan menjalin mitra dengan media berita pedesaan ini.

Menurutnya, mitra publikasi berita pedesaan, terutama sosialisasi program pembangunan di Desa Balitata, dapat menangkal dugaan pihak-pihak tertentu terhadap program pembangunan desa yang dia jalankan. Sebab, publikasi media adalah bagian dari wujud membangun keterbukaan informasi dalam mengelola pemerintahannya.

Dalam mitranya, ia berharap memanfaatkan media online Om Desa, yakni omdesa.id dan Majalah Om Desa agar mempublikasi sejumlah kegiatan pembangunan di desanya secara terbuka dan tertanggung jawab. Selain itu, dirinya juga akan mempublikasi pembangunan inovatif serta ekonomi pedesaan menuju kemandirian dan kemakmuran masyarakat agar diketahui oleh masyarakat, pemerintah daerah dan pihak Kemendes PDTT.

Kades Balitata saat melayani tamu dari Polsek Saketa, Kec Gane Barat di kantor desa pada 7 November 2018, guna membahas masalah kamtibmas yang sering terjadi di desa.
“Harapan saya, kerjasama antara pemerinta desa dan polsek kecamatan, dapat mengurangi kriminal dan kenakalan remaja yang sering terjadi di desa,” katanya

Redaksi

Download

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait